Search This Blog

Wednesday, December 3, 2014


Don't Look By The Different

Prologue

          Di sebuah kursi panjang di teras kelas lantai atas gue duduk berdua. Cuma berdua, gw dan dia. Iya dia, dia yang udah menemani gue sejauh ini dan yang selalu ada di saat gue senang maupun susah. Kita berdua berbincang bincang dan bercerita kecil dengan mesra dan penuh keasikan.
“setelah lulus dari sekolah ini kamu mau kemana?” tanya gue. “yang pasti sih aku kuliah dulu, kalo ada waktu sambil kerja mungkin sambil kerja juga” jawab dia. Gue pun terdiam sejenak. “kalo kamu gimana?” tanya balik dia sambil menatap wajah gue. Dengan menatap matanya gue pun menjawab “aku juga kuliah, tapi gk tau mau dimana? Kalo bisa sih gk jauh dari kamu”. Dia terdiam sambil tersenyum menatap gue, “Aku juga gk akan mau jauh dari kamu, sekalipun aku dapet universitas yang jauh, aku mau kita bisa luangin waktu buat berdua” ucap dia dengan agak menunduk. Gue pun mengangkat dagunya dengan jari telunjuk gue secara perlahan, “mau kita pisah ke manapun ketika kuliah, setelah itu kan kita pasti sama-sama lagi, jangan jadiin aku sebagai penghambat cita-cita kamu” ucap gue sambil menatap wajahnya dengan senyum. Dia pun mengangguk dengan senyumannya yang selalu manis di mata gue.
“Iya, kita pasti sama-sama lagi, gk akan ada yang bisa pisahin kita” ucap gue dalam hati sambil menggenggam erat tangannya. Akhirnya kita berdua pun bangkit dari kursi dan berjalan keluar sekolah, tapi ketika kita jalan keluar dari gardu sekolah tiba-tiba ada suara nyokap gue manggil-manggil gue. Tapi anehnya, nyokap gue gk ada, terus darimana nyokap gue manggil? Gue lari sambil narik tangan dia dan tiba-tiba..... “bruukkkk” gue kesandung dan...... “gedebukkkk”.
Kampret, gue jatuh dari kasur -_-   Gue jatuh dengan keadaan nyokap gw 3 langkah dari samping gue neriakin nama gue. Berarti yang tadi manggil gue disekolah nyokap gue di rumah dan kampretnya lagi itu bukan di sekolah, itu di mimpi gue.. Sekali lagi gue ulangin “ITU DI MIMPI GUE, KAMPRETTT!”

Setelah selesai mandi, pakai seragam dan sarapan, gue pun pamit sama nyokap.
Gue lari sampai ke jalan raya dengan tergesah gesah berharap gk ketinggalan angkot lagi..
Jadi disinilah kisah gue bermula, Ryan Diputra dan kehidupannya. Buat kalian gue sarankan dan gue peringatkan jangan liat kisah gue dari “sisi perbedaan”. “sisi perbedaan” apanya? Kita liat nanti... J

No comments:

Post a Comment